in , ,

4 Seni Parenting Generasi Millenial yang Perlu Diketahui

4 Seni Parenting Generasi Millenial yang Perlu Diketahui

Well, orang tua zaman sekarang memang banyak yang sudah kekinian dan meninggalkan cara-cara tradisional. Proses pengasuhan interaksi sebagai pembelajaran anatara orang tua dan anak yang meliputi segala aktivitas pasti membutuhkan pengetahuan.

Orang tua millenials ini juga sering dibuat pusing dengan kelakuan anak zaman sekarang. Dimana penggunaan gadget  tidak pernah lepas dari genggamannya dan mereka lebih suka menghabiskan waktunya bersama handphone pintar tersebut ketimbang berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya.

Tapi orang tua millenial tidak mau ketinggalan zaman apalagi sampai kekurangan ide dalam mendidik putra putri mereka. Agar kelak bisa menjadi generasi penerus sebagai orang tua yang bisa lebih baik.

Gaya Parenting Generasi Millennial

Beragam usaha ditempuh untuk bisa menyesuaikan diri dengan perubahan dengan gaya pengasuhan yang kekinian. Uniknya cara pengasuhan setiap orang tua dalam mendidik anak berbeda seperti penjelasan seni parenting generasi millenial yang lebih modern berikut ini:

1. Berpikiran Terbuka

http://listdose.com

Siapa bilang kalau orang tua yang sudah banyak mengenal gadget ini tidak mau menerima masukan untuk merawat anak? Di zaman media sosial para orang tua justru menjadikan media ini sebagai sarana menanyakan pendapat dan berbagi informasi seputar tumbuh kembang anak mereka.

Semudah menulis status dan kolom komentar, mereka memanfaatkannya untuk bertukar pikiran dan pendapat. Misalnya ketika anaknya sakit kira-kira obat apa yang seharusnya diberikan orang tua sebagai pertolongan pertama sebelum akhirnya memutuskan untuk membawa ke dokter.

Ataupun saat orang tua memiliki pendapat bahwa sekolah di jurusan A lebih cocok dan menjanjikan untuk karir anak di masa depan. Meski orang tua memiliki pandangan sendiri untuk kebaikan anak, tapi orang tua millenial lebih memberi kesempatan untuk anak memilih sendiri keputusan yang ingin diambil dan mendiskusikannya dengan komunikasi dua arah.

Lagi pula orang tua seharusnya tidak memaksakan kehendaknya dan menyetir keinginan anak. Kasihan kan jika anaknya harus menjalani dengan setengah hati hanya karena ingin menyenangkan orang tuanya. Pertimbangan ini yang membuat para orang tua millenial umumnya sudah lebih memperhatikan dan tidak membatasi anak terlalu ketat.

Alih-alih menggunakan kekerasan fisik sebagai bentuk mendisplinkan anak disaat dirinya melakukan kesalahan, justru orang tua millenial jarang memberi hukuman pada anak. Orang tua millenial cukup bijak dengan lebih lembut dan fokus pada gaya pengasuhan yang lebih positif.

Gaya demokrasi yang diterapkan di rumah menjadi pilihan orang tua millenial dalam mendidik anak. Orang tua millenial sekarang memang lebih cerdas, ini bisa jadi dikarenakan orang tua sekarang juga sudah banyak yang berasal dari perguruan tinggi.

Tapi biasanya orang tua sekarang juga memiliki kesibukan dan segudang aktivitas diluar rumah. Walaupun begitu orang tua tetap menyempatkan waktu me time dengan pintar mencuri waktu. Tak khayal waktunya untuk sendiri sekadar melepaskan dari jadwal padat, orang tua menyempatkan mencari informasi mengenai pendidikan dan kedisiplinan yang tepat dengan sedikit meninggalkan cara lama yang lebih protektif.

Sehingga tidak menutup kemungkinan orang tua millenial kerap mencoba hal-hal baru dalam mendidik anak. Bahkan ada juga yang tergabung dalam keanggotaan komunitas para ibu demi mendapatkan pengetahuan baru dalam mendidik anak. Mengikuti seminar dan workshop mengenai parenting yang kini banyak diselenggarakan, juga menjadi pilihan para ibu, khusunya ibu muda zaman sekarang.

Baca : Penting Diketahui 6 Pola Asuh yang Semestinya Diberikan Untuk Generasi Millenial

2. Memamerkan Foto-Foto Perkembangan Anak

http://gettyimages.com

Para orang tua yang aktif di media sosial kerap membagikan foto-foto aktivitas anak mereka. Bahkan tidak jarang yang membuat akun khusus untuk anak mereka. Beragam maksud dan tujuannya mulai dari mengabadikan momen perkembangan anak yang tidak ingin dilewatkan sekali seumur hidup, sampai dengan irit memori agar tidak kepenuhan di gawainya.

Mereka juga tahu apa akibat yang bisa saja terjadi jika memasang foto-foto anak mereka di media sosial. Seperti kasus penculikan maupun penipuan. Tapi hal tersebut tidak urung membuat mereka berhenti membagikan foto anaknya. Akan selalu ada tingkah polah anak yang lucu dan menggemaskan untuk kemudian merasa perlu diperlihatkan kepada orang lain di media sosialnya.

Baik itu berupa foto maupun video yang meliputi kegiatan sehari-hari. Selain karena alasan tidak mau ketinggalan momen perkembangan anak, ada juga karena dengan membagikan hal tersebut dapat mempererat silaturahmi pertemanan di medi sosial.

Seperti keluraga atau kerabat serta teman dekat yang tinggal jauh dari kediamannya juga bisa terjalin kembali berkat perkembangan anaknya, dengan ikut mengirim komentar, mengirim chat ataupun merespon sekadar likes saja. Kini orang tua millenial menjadikan perkembangan anak sebagai topik perbincangan di sela-sela kesibukannya di kantor atau juga saat kumpul di acara reuni.

Perasaan senang dan bahagia bila sudah membicarakan perkembangan anak terutama di masa-masa keemasannya. Pengalaman mendidik anak juga turut dibagikan para orang tua millenial untuk sekadar berbagi informasi untuk orang tua lainnya. Oleh karena keadaan inilah cerita, foto dan video yang diunggah di internet dijadikan sebagai sumber referensi utama yang dengan mudah diakses sebagai metode paling sering digunakan.

Alasannya bisa menghemat biaya, tenaga dan waktu karena tidak harus datang langsung menanyakan pada orang tua lainnya, tapi cukup menggunakan gawai saja sudah bisa mengetahui. Namun perlu diperhatikan bagaimana penggunaan media yang bai ketika menggunggah hal-hal pribadi mengenai anak yang semestinya dipikirkan lebih jauh oleh para orang tua.

Pastikan saat anak mulai tumbuh remaja tidak merasa risih ataupun malu karena foto-fotonya sewaktu kecil tersebar luas di media sosial ayah ibunya. Bila postingannya berupa prestasi anak atau hobi yang dilakukannya barangkali akan memunculkan reaksi bahagia dan bangga merasa diapresiasi.

Lain hal jika dalam bentuk pengalaman kurang menyenangkan seperti ketika anak sedang menangis, trantrum saat sedang meminta mainan atau semacamnya. Bisa saja membuat anak risih dan khawatir dikemudian hari, takut kalau dirinya dijadikan bercandaan atau diolok-olok mengingat betapa memalukannya pengalaman tersebut.

Belum lagi jika adanya persaingan orang tua akibat postingannya yang selalu terlihat baik, nyaris tanpa cacat dan cela, seolah begitu sempurna. Citra ini dapat membuat para orang tua lain yang ikut menjadi teman di media sosial berlomba-lomba menampilkan anaknya di media sosial supaya sepadan dengan anak dari temannya tersebut.

Baca : Yakin Kenal Sama Dirimu, Millennial? Yuk Kenali Bagaimana Karakteristikmu

3. Menjadi Orang Tua dan Teman Anak di Dunia Maya

http://apegeo.com

Tidak bisa dipungkiri bahwa generasi sekarang disebut generasi nunduk. Hampir semua masyarakatnya terutama orang tua yang tidak bisa lepas dari gadget. Namun tidak selamanya menjadi negatif. Buktinya orang tua tetap bisa memantau perkembangan anaknya melalui dunia maya.

Iya, orang tua masa kini memposisikan dirinya tidak hanya sebagai ibu atau ayah dari anak-anak mereka, tetapi juga lebih akrab dengan menjadi teman di akun media sosial anak. Tanpa ada rasa risih ataupun mengganggu, sang anak dan orang tua juga bisa tetap berkomunikasi dan leluasa bersosial media.

Tapi bagaimana jika anak merasa seperti diawasi dan sangat menutup diri sebab berhati-hati sekali, tidak leluasa saat membagikan sesuatu di sosial media miliknya. Ada baiknya orang tua sekadar mengetahui saja tanpa harus menyelami lebih dalam.

Sehingga keduanya bisa saling menghargai privasi anak, agar kenyamanan tidak terganggu. Terutama saat menemukan komentar negatif di salah satu postingan anak. Umumnya orang tua yang tidak terima diperlakukan begitu akan ikut mencampuri dan membalas komentar tersebut.

Padahal hal ini justru membuat anak semakin merasa tertekan dan malu sendiri mengetahui respon orang tuanya. Pentingnya membangun komitmen pada anak perihal apa yang perlu dibagikan di sosial media dan mana yang sebaiknya disimpan secara pribadi.

Menanamkan keyakinan diri pada anak bahwa tidak selamanya semua orang yang mengikuti akun sosial media akan terus menyukai apa yang dibagikannya. Sehingga anak bisa memilah dan memilih serta lebih bijak menggunakan internet.

Jika ternyata orang tua menemukan hal yang kurang menyenangkan di sosial media anak, orang tua yang baik mendiskusikannya dengan tidak menghakimi. Orang tua perlu memiliki jiwa besar saat menghadapi hal tersebut. Sehingga anak lebih leluasa dan tidak merasa dimata-matai saat ingin membagikan sesuatu di sosial media, meskipun mengetahui dirinya berteman dengan orang tua serta keluarga di akunnya.

4. Tahu Aktivitas Anak di Sekolah Lewat Teknologi

http://myeverydayclassroom.com

Kini penggunaan grup whatssapp menjadi tren yang tidak ingin dilewatkan para orang tua untuk memantau aktivitas anaknya di sekolah. Menjalin hubungan dan komunikasi dengan orang tua dan  guru guna membagikan momen selama bersekolah. Sehingga orang tua bisa membagikan momen tersebut untuk kemudian diupload ke sosial media.

Mendapatkan informasi dengan lebih cepat dan efisien kerap kali dirasakan para orang tua dan guru sekarang ini. Begitu juga dengan menanyakan tugas atau PR di sekolah yang kurang dimengerti dalam upaya mendukung proses belajar anak. Sebab guru adalah orang tua kedua yang lebih banyak dan dekat bersama anak saat sedang berada di sekolah.

Pendampingan dan pembinaan seorang guru selama proses belajar mengajar berlangsung membuatnya tahu sejauh mana progress atau pencapaian anak didiknya. Berbagai kritik atau saran sebagai masukan yang membangun antara wali murid dengan guru juga lebih terbentuk yang berguna untuk saling menguatkan.

Sekalipun tidak setiap hari dilakukan, tetapi kebermanfaatannya sangat dirasakan oleh berbagai pihak. Tentunya ini merupakan salah satu hal positif dengan adanya perkembangan teknologi. Meskipun tidak semua orang bisa menikmatinya. Sebab beberapa dari mereka yang berada di pedalaman atau pedesaan tidak bisa mengakses internet secara lebih leluasa.

Hal ini dikarenakan tidak semua orang tua juga bisa menggunakan dan memiliki handphone android. Terlepas dari itu semua setiap orang tua pasti memiliki caranya tersendiri dalam mendidik anaknya, meski menemukan beragam hambatan. Sehingga tidak ada yang perlu dikhawatirkan dalam hal ini.

Nah, gimana menurutmu seni parenting generasi millenial sekarang ini, keren kan? Perlu diingat ya, bahwa apapun  gaya parenting yang orang tua terapkan, pastikan itu merupakan cara yang baik bagi tumbuh kembang anak.

Baca : Ini Nih, Cara Terbaik Menarik Hati Gebetan Berdasarkan Dari Zodiak Mereka

Tidak ada orang tua yang sempurna, yang ada hanyalah orang tua yang berusaha memberikan terbaik dan mencoba terus ada untuk anaknya. Tetaplah berpikir positif untuk selalu bisa melewati setiap fase pertumbuhan anak.

This post was created with our nice and easy submission form. Create your post!

What do you think?

0 points
Upvote Downvote
Advocate

Written by Nur Aini Rahmah

Seorang penulis

Story MakerStory MakerContent AuthorContent Author
Stop Ladies! 10 Kesalahan Tak Kamu Sadari Ini Akan Mengakhiri Hubunganmu dengan Si Dia

Stop Ladies! 10 Kesalahan Tak Kamu Sadari Ini Akan Mengakhiri Hubunganmu dengan Si Dia

Para Millennial Jadi Korban Zaman Now Yang Butuh Pertolongan!