in ,

7 Toko Buku Terunik yang Ada di Dunia Ini Akan Mengubah Mindset kamu

Yuk cari tahu

7 Toko Buku Terunik yang Ada di Dunia Ini Akan Mengubah Mindset kamu

Apakah kamu suka membaca buku? Jika kamu menyukai buku dan menganggarkan uang bulanan kamu untuk berbelanja buku berarti toko buku  menjadi tempat yang sering kamu kunjungi, setidaknya satu bulan sekali. Banyak pecinta buku yang betah menghabiskan waktu di toko buku. Ketika berada di toko buku, pecinta buku sering lupa diri karena banyaknya buku yang hendak dipilih. Saat ini, kamu bisa dengan mudah menjumpai toko buku dekat tempat tinggalmu.

Toko Buku Terunik yang Ada di Dunia

Desain dan koleksi toko buku biasanya terlihat mirip satu sama lain. Tetapi tahukah kamu bahwa di luar sana ternyata ada toko buku yang cukup unik dan tidak membosankan? Penasaran toko buku tersebut ada di mana saja? Yuk, kita bahas satu per satu.

Pertama, Atlantis Books di Santorini, Yunani

sumber: Goodreads

Apakah berkunjung ke sebuah toko buku tidak terdengar cukup romantis? Kalau begitu, coba saja kamu mulai bayangkan toko buku yang ada di Pulau Santorini, Yunani, yang mengikuti gaya Shakespeare dan Company yang ada di Paris. Toko buku ini mempekerjakan dan menampung pelancong dan penulis keliling, dan sambil membayangkan masa depan dimana anak-anak mereka  akan berlarian.

Itulah yang dilakukan oleh beberapa mahasiswa asal Universitas Amerika dan Eropa pada musim semi tahun 2002. Di tahun 2004, toko buku yang bernama Craig Walzer, Chris Bloomfield, Oliver Wise, Will Brady, Tim Vincent Smith dan Maria Papagapiou mulai dibentuk menyerupai siput. Kelompok ini membangun sebuah rak buku yang bergerak spiral ke lokasi rahasia pada tahun 2005.

Di langit-langit toko, spiral tersebut menuliskan nama-nama orang pertama yang pernah bekerja di sana. Banyak orang berharap bahwa toko buku spiral ini akan berkembang tetapi nampaknya toko buku tersebut akan beradaptasi dengan pasar. Sayang sekali, ya?

Kedua, BooksActually di Singapura

Sumber: www.thebestsingapore.com

Untuk ukuran toko buku tunggal, BooksActually berdampak signifikan di Singapura dan sekitarnya. Toko buku ini menghadirkan buku-buku yang ditulis oleh para penulis Singapura. Buku-buku itu dijual di mesin penjual yang ada di seluruh kota dan pengiriman juga difasilitasi hingga ke berbagai belahan dunia. Toko BookActually mulai online dan memajang barang dagangannya pada tahun 2005.

Pilihan yang tersedia sangat variatif mulai dari level global dan lokal, baru dan langka. Mesin penjualnya kini diletakkan di National Museum of Singapore, Singapore Visitor Center dan Goodman Arts Centre, pusat dari Dewan Kesenian Nasional. Hal ini bertujuan agar orang-orang bisa mulai mengenal siapa saja para penulis asal Singapura meskipun mereka belum berminat membeli bukunya.

Ketiga, Books for Cooks di London

Sumber: www.cool-cities.com

Toko buku ini didirikan pada tahun 1983 oleh Heidi Lascelles, ketika London masih belum terlalu ramai. Di tahun 1992, Lescalles mempekerjakan Rosie Kindersley dan satu tahun kemudian Kindersley bertemu dengan sang suami, Eric Treuille ketika lelaki itu berkunjung ke toko. Books for Cooks telah menjadi tempat bagi pecinta buku dan ketika Lascelles pensiun, Kindersley dan Treullie yang mengambil alih toko tersebut.

Kindersley menata buku-bukunya. Sedangkan Treuille berada di dapur lantai atas, menyiapkan resep yang telah dipilih dari judul buku  dan menyiapkan makan siang setiap hari untuk 40 orang atau untuk penyuka makanan. Sepertinya, tempat ini cocok kalau dijuluki surga makanan ya, Guys.

Baca : Fun Fact – Leonardo Da Vinci dan Keunikan Sang Pelukis Jenius yang Belum Anda Ketahui

Keempat, Pagdandi di Pune, India

sumber: www.thebetterindia.com

Sepasang suami dan istri, Vishal dan Neha Pipraiya bertemu setelah keduanya berhenti dari pekerjaan mereka dan berangkat bersama untuk melakukan perjalanan. Mereka berdua membuka Pagdandi di Pune, India, pada tahun 2013. Mereka menyegarkan jiwa dan hati mereka dengan koleksi buku yang melimpah, makanan sehat dan minuman chai hangat.

Semuanya menyatu dalam ruangan yang menawan. Mereka tidak hanya saling menemukan diri satu sama lain tetapi juga menemukan pagdandi. Sekalipun mereka jarang bepergian, tetapi mereka lebih mampu menempuh jalan yang mereka lalui dan berharap  bisa membantu orang lain untuk menemukan tempat mereka sendiri.

Vishal dan Neha bahkan siap membantu siapa saja yang ingin merencanakan perjalanan kemana saja dan menemukan banyak buku yang bisa membawa setiap orang ke tempat yang mereka impikan. Apakah kamu tertarik?

Kelima, Daikanyama Tsutaya di Tokyo

Sumber: www.dezeen.com

Toko buku ini dibuat dengan ide “Perpustakaan Dalam Hutan” milik Daikanyama Tsutaya. Tempat ini memberikan kenyamanan di tengah padatnya jalanan di Tokyo. Tiga buah bangunan dihubungkan oleh Ts –isyarat persetujuan dari pemilik bangunan kepada para arsitektur di Klein Dhytam Architecture.

Bangunan-bangunan itu menjelma menjadi hutan yang dilengkapi dengan tempat parkir sepeda dan knop untuk kalung anjing, sehingga anjing dan sepeda mereka akan aman sementara mereka bisa melihat beberapa barang  antik milik Daikanyama Tsutaya.

Para pecinta buku yang datang kesini tidak hanya disuguhi dengan ruangan yang ada di atas ruangan buku- segala hal yang berbau Jepang dan Barat berdampingan mulai makanan, tempat wisata, mobil dan motor, arsitektur dan desain, seni, dan tentunya buku. Bahkan terdapat pula arsip CD dan DVD dan terdapat bagian  alat-alat tulis termasuk pena dari bulu ayam.

Tempat pameran seni di lantai dua dikhususkan menampilkan majalah kuno, dengan lebih dari 30.000 tema yang ada di Jepang dan internasional, sebagian besar koleksi dari tahun 1960 an dan 1970 an. Sepertinya ini adalah satu gedung yang  bisa memberikan banyak sekali barang-barang hebat.

Keenam, Munro’s Book di Victoria, Kanada

Sumber: www.munrobooks.com

Dibangun pada tahun 1963, Munro’s Book menjadi lanskap kota Tua Victoria. Bangunan neoklasik ini pada mulanya dibuat untuk Royal Bank Kanada dan memiliki langit-langit setinggi 24 kaki, mirip dengan langit-langit perpustakaan pada abad ke-2 Masehi di Efesus. Bangunan itu dipugar oleh sepasang suami istri, Jim Munro dan Alice.

Toko buku yang satu ini sudah berkembang dengan sangat pesat dan memberikan kontribusi yang cukup besar yang bisa menginspirasi Nyonya Munro. Setelah membaca banyak koleksi buku, dirinya bisa menulis dengan sangat baik. Akhirnya, dia memenangkan hadiah nobel sastra pada tahun 2013.

Jim mengurus tokonya sampai pada tahun 2014. Ketika dia pensiun, dia memberikan tokonya pada 4 karyawan lama. Dia berkata pada dirinya sendiri, “Saya memiliki waktu terbaik untuk pergi. Saya merasa sangat baik. Saya merasa inilah waktu yang tepat untuk pergi.” Akhirnya, 2 tahun kemudian dia meninggal dunia dan dirinya selalu diingat oleh para pembaca yang ada di dunia dan di Kanada.

Baca : Uniknya 12 Jembatan di Dunia Ini Dijamin Buat Kamu Nggak Sabar Pengen Kesana

Terakhir, Bookworm di Beijing

Sumber: thebejinger.com

Bookworm adalah kombinasi dari toko buku, kafe, perpustakaan dan ruang acara yang berlokasi di Beijing, Chengdu dan Suzhou. Bookworm menjadi pusat sastra yang selalu ramai. Tempat ini berawal dari perpustakaan kecil yang dibangun pada awal tahun 1990-an.

Lalu seorang expatriat bernama Alexandra Pearson datang dan mendapati bahwa cukup sulit mendapatkan buku-buku berbahasa Inggris di China. Terlebih lagi di toko-toko buku yang dikelola pemerintah. Seperti tidak ada alternatif pilihan lainnya.

Rak buku di sana kini dipenuhi dengan ribuan jilid buku baik dalam Bahasa Inggris maupun dalam Bahasa China. The Bookworm juga mengadakan festival tahunan yang populer dan akrab bagi penulis internasional dan pers yang fokus menerjemahkan buku-buku dari para penulis Cina yang masih kurang dikenal.

This post was created with our nice and easy submission form. Create your post!

What do you think?

-1 points
Upvote Downvote
Participant

Written by maulida

penulis aja

Story MakerStory Maker
Jangan Terlalu Pede! Segera Sadari, Ternyata Cewek Tak Menyukai 12 Hal Ini dari Cowok

Jangan Terlalu Pede! Segera Sadari, Ternyata Cewek Tak Menyukai 12 Hal Ini dari Cowok

Ketergantungan 'Micin' Era Millennial dan Efek Sampingnya Yang Harus Kamu Tahu

Ketergantungan ‘Micin’ Era Millennial dan Efek Sampingnya Yang Harus Kamu Tahu