in ,

Inilah 6 Alasan Pernikahan Dini Banyak Terjadi di Generasi Millenial

Proteksi diri agar tidak terjadi dengan kamu

Inilah 6 Alasan Pernikahan Dini Banyak Terjadi di Generasi Millenial

Pernikahan dini pastinya tidak asing lagi ditelinga kita. Berlangsungya pernikahan salah satu atau kedua pasangan berada dibawah tahun alias masih remaja ini diatur dalam  hukum perundang-undangan yang berlaku dan juga hukum agama serta kepercayaan.

Tapi tahu nggak sih bro, kalau pola pikir lama yang menganggap pernikahan dini banyak dilakukan di pedesaan, justru pernikahan dini saat ini banyak terjadi di perkotaan.

Alasan Pernikahan Dini Banyak Terjadi di Generasi Millenial

Berikutt Ini rangkuman alasan mengapa pernikahan dini banyak terjadi di generasi millenial:

1. Pola Pikir Yang Menjadi Pedoman Hidup

Pola pikir yang menjadikan menikah sebagai solusi dari masalah ekonomi yang menghimpit rupanya tetap menjadi pola pikir yang melekat dan terbawa pada anak muda masa kini. Dengan menikahkan anak perempuannya maka beban hidup dan tanggungjawab orang tua berkurang, karena anak perempuan akan menjadi tanggungjawab suaminya.

Pola pikir tersebut tidak serta merta muncul begitu saja. Selain karena pergaulan, salah satunya lingkungan atau tempat tinggal juga ikut mendukung terbentuknya pola pikir tersebut. Seperti mereka yang hidupnya tinggal di pedesaan dan masih menerapkan nilai-nilai lama di daerahnya. Menikah di usia muda merupakan suatu kebiasaan umum.

Namun mengapa di zaman millenial sekarang ini, dimana kehidupan perkotaan mendominasi dan teknologi kian canggih, justru meningkatkan angka pernikahan dini? Komunikasi yang semakin berkembang dan mudah diakses, menambah jaringan pertemanan dengan lebih mudah.

Ini bisa jadi sarana penunjang sebagai akses bergaulnya laki-laki dan perempuan menjalin kedekatan. Kedekatan yang terjalin secara intens dapat menumbuhkan benih-benih cinta meskipun belum pernah bertemu sebelumnya. Maka tidak heran jika zaman sekarang ini banyak ditemukan kasus orang yang menikah dari lain pulau atau di negeri seberang.

Alasannya beragam, bisa karena sudah merasa nyaman atau nyambung satu sama lain, sehingga memutuskan untuk menikah walaupun berbeda usia. Banyak generasi millenial berpikir tidak menjadikan usia muda sebagai tolak ukur menunda pernikahan. Tidak hanya itu, tenyata globalisasi di era digital ini juga menimbulkan kekhawatiran para orang tua yang tidak siap dalam menghadapi tumbuh kembang anak.

Membiarkan anak yang merengek saat minta dinikahkan. Sehingga untuk mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan, orang tua berpikir untuk menikahkan anaknya di usia muda. Selain itu biasanya orang tua yang memperbolehkan juga berlatar belakang menikah saat masih muda. Maka tidak heran jika usia pernikahan yang tergolong muda turut memberikan pola pikir yang serupa.

Baca : 11 Tren Gaya Hidup di Kalangan Generasi Millennial Yang Kurang Produktif

2. Pengaruh Gaya Hidup Luar

Tidak bisa dipungkiri bahwa zaman yang menglobalisasi saat ini ikut andil memberikan masuknya tren budaya luar kedalam negeri. Tren budaya tidak hanya berupa gaya busana, makanan, bahasa, tapi juga gaya hidup. Kebiasaan-kebiasaan seperti caranya berpakaian, caranya berkomunikasi dan sebagainya, dapat memberikan keberagaman nilai-nilai budaya sebagai bentuk sosialisasi.

Keberagaman itulah yang tidak menutup kemungkinan menggeser nilai-nilai budaya dalam negeri sendiri. Sehingga negara yang umumnya memberikan kebebasan bagi masyarakatnya untuk menikah di usia muda dijadikan tren bagi generasi millenial.

Pemahaman terhadap pernikahan yang kurang mendalam dan cenderung tahu enak-enaknya saja berdasarkan apa yang dilihat dari media sosial, terlebih jika kehidupan keluarga dan pengasuhan yang buruk turut andil memainkan peran menikah muda sebagai pilihan. Sekarang ini pandangan ‘hidup hanya satu kali’ kerap dijadikan anak muda untuk sesuka hati melakukan apa saja.

Mulai dari pergi ke club malam, meminum-minuman beralkhohol, bertukar jarum suntik hingga pergaulan bebas. Tentunya perilaku ini tidak urung didapatkan karena adanya pengaruh dari gaya hidup luar, jadi mereka berani melakukan hal itu meskipun dinilai cukup beresiko.

3. Budaya

sumber gambar http://dolofindia.com

Adanya budaya yang masih melestarikan kepercayaan nenek moyang dan tidak terpengaruh oleh kebudayaan masa kini biasanya terjadi di beberapa suku pedalaman. Sekadar menjaga nilai-nilai luhur perihal pernikahan sakral seperti perjodohan di usia belia rupaya masih terjadi saat ini.

Peraturan adat yang lebih dipatuhi oleh beberapa daerah ketimbang peraturan hukum perundang-undangan yang berlaku mengenai pernikahan dibawah umur juga menjadikan alasan praktik pernikahan dini masih terjadi. Kepercayaan jika anak perempuan sudah ada yang melamar tidak boleh ditolak, sebab bisa menyebabkan tidak laku-laku.

Sehingga anak perempuan yang masih terikat akan tradisi ini terpaksa menikah meski usianya masih belasan tahun. Takutnya mendapat stigma negatif menjadi perawan tua lebih diutamakan, ketimbang beresiko mengalami perceraian atau menjadi janda di usia muda. Terlebih lagi jika anak perempuannya sudah memasuki masa menstruasi agar tetap bisa menjaga dirinya maka buru-buru dicarikan suami.

Ada juga yang anak perempuannya berada di kota rantauan, sehingga menikah sebagai solusi agar orangtua merasa aman anaknya ada yang mengawasi dan sebagai pengikat keluarga yang jauh. Belum lagi beranggapan untuk mengangkat derajat keluarga jika menantu berasal dari latar belakang keluarga terpandang, hingga alasan hutang budi.

Baca : Siapa Itu Generasi Millennial Dan Bagaimana Karakteristiknya?

4. Akses Konten Negatif

Sumber gambar: http://berita-satu-news.blogspot.com

Masuknya informasi dan mudahnya mengakses hal-hal yang kurang layak untuk dikonsumsi sehingga menimbulkan kehamilan diluar pernikahan bisa jadi pemicu alasan pernikahan itu dilangsungkan walaupun usianya belum memenuhi syarat.

Minimnya edukasi pada anak perihal fungsi reproduksi, sehingga anak yang terlanjur mengkonsumsi konten negatif dengan mudahnya mempraktekkan apa yang diketahuinya tanpa berpikir panjang akan dampaknya dikemudian hari.

Mirisnya jika aktivitas ini didukung oleh kondisi sosial yang memadai seperti pergaulan bebas. Sehingga akses konten negatif dianggap wajar dan menikah dini adalah hal yang biasa terjadi. Kehamilan diluar nikah dan praktek hubungan seks bisa saja terjadi karena tontonan pornografi atau semacamnya.

Namun bisa juga menikmati konten negatif dikarenakan kepuasan masa remaja yang belum terpenuhi secara baik. Sehingga kegiatan positif yang menyenangkan merupakan salah satu cara pengalihan agar terhindar dari sesuatu yang tidak semestinya.

Tidak bisa dipungkiri memang untuk mencegah masuknya konten-konten negatif saat sedang menggunakan teknologi informasi sangatlah sulit. Konten negatif itu bisa muncul secara bertahap dan samar dalam bentuk iklan yang menampilkan pakaian seksi saat browsing, adegan flirting dalam film, dan sebagainya.

Namun lama-kelamaan akses konten negatif tersebut menjadi terbiasa. Lalu beralih pada tingkat pornografi yang lebih lagi. Pada awalnya anak remaja yang memilki tingkat keingintahuan tinggi dan ingin mencoba hal baru boleh jadi merasa jijik dan malu sendiri ketika mengakses video erotik.

Biasanya setelah itu timbullah rasa penyesalan kemudian bertaubat. Beruntunglah bila memiliki penanaman kontrol diri yang baik, sehingga tetap merasa jijik dan tidak mengulangi kembali. Lain hal bila konten tersebut terlanjur melibatkan emosi dan meningkatkan dopamin pada sistem limbik di otak. Ibarat candu yang menimbulakan efek ketagihan, maka remaja bisa saja mengakses kembali.

Tidak hanya itu, keseringan mengakses level erotika yang sama akan menimbulkan hasrat untuk melakukannya sendiri. Bahayanya bila dari video yang dilihat diperagakan langsung pada pacar atau teman wanitanya karena hasrat tak terbendung atau kontrol diri yang kurang baik. Maka pihak yang paling dirugikan adalah sebagian besar wanitanya harus menanggung perut yang kian membuncit.

Bila sudah begitu keluarga akan memutuskan menikahkan anak perempuannya meski masih berusia belia dan harus putus sekolah. Penanaman moral yang baik sangatlah penting, ini juga berhubungan dengan pengasuhan dan pengawasan orang tua untuk membentuk ketahaan diri pada anak agar tidak menikah di usia dini. Baik itu dilakukan secara sukarela maupun terpaksa, khususnya pada generasi millenial.

5. Keluarga Yang Kurang Harmonis

Adanya pengalaman kekerasan pada anak dalam kehidupan keluarga bisa menjadi salah satu alasan ingin menikah muda sebagai bentuk pelarian dari kondisi keluarga yang kurang harmonis. Bukan hanya itu saja, perasaan bahagia yang lebih terpenuhi bersama pacar, bahkan keputusan untuk kawin lari pun bisa jadi keputusan yang diambil.

Padahal menikah bukanlah satu-satunya jalan keluar sebagai solusi saat menghadapi masalah. Ketika komitmen menikah kurang kuat maka keharmonisan keluraga bisa saja mengalami kejadian serupa. Dampak inilah yang kerap kali tidak dijadikan pertimbangan sebelumnya akibat efek jangka panjang dari pilihan yang diambil.

Terutama jika perpecahan keluarga membuat anak merasa kurang diperhatikan dan tidak mendapatkan kasih sayang dari kedua orang tua sebagaimana mestinya. Sehingga anak akan mencari jalan lain untuk memenuhi kebutuhan psikologisnya.

Umumnya keadaan ini tercipta ketika sosok pahalwan kesiangan sebagai pengganti orang tua hadir memberikan keinginan disaat kesepian, atau membutuhkan seseorang yang menghibur. Bisa seorang teman lawan jenis baik itu didunia nyata atau pun dia yang bertemu di dunia maya. Pastinya kehadiran tersebut sangat berarti bagi remaja yang berada dalam kehidupan keluara kurag harmonis.

6. Pedoman Beragama

Takut akan zina kerap kali menjadi alasan pernikahan dini dilakukan. Tingginya akan fundamentalis beragama juga membuat tabunya diskusi seksualitas pada anak. Dalam beragama juga tidak dilarang menikahi wanita di usia muda. Selama sudah baligh dan berakal, menikah menjadi diperbolehkan.

Pengetahuan ini dijadikan dalih menikahi anak dibawah umur tanpa memperhitungkan kesiapan dan kemampuan menikah terlebih dahulu. Padahal menikah bukan hanya sekadar memenuhi kebutuhan biologis saja. Tetapi lebih dari itu, menikah juga sebagai kebutuhan ruhiyah sehingga tercipta keluarga yang sakinah mawadah warahmah.

Jadi pertimbangan menikah ini ada banyak sebelum akhirnya menjadi sah, baik dari segi psikologis, biologis dan ekonomi. Faktor religiusitas juga kerap menjadi pertimbangan seseorang dalam menikah. Tidak jarang laki-laki yang memilih menikahi wanita yang lebih muda usianya dari dirinya.

Menikah memang momen yang diingkan oleh banyak orang. Dengan menikah segala yang dilarang dilakukan oleh lawan jenis menjadi diperbolehkan bahkan bernilai ibadah. Setiap orang tentunya menginginkan kehidupan yang bahagia setelah pernikahan. Rezeki yang siapapun tidak akan menolaknya.

Nikmatnya menikah juga bukan hanya, dari yang tadinya kemana-mana sendiri jadi ada yang selalu menemani. Menikah muda juga tidak selalu negatif selama memenuhi syarat dan memiliki kemampuan untuk menjalaninya.

Baca : 10 Cara Mengetahui Hubungan Percintaan Kamu Bakal Berakhir

Bahkan kondisi finanasial juga lebih ringan mencapai tujuan, jika dilakukan bersama-sama berdua dengan pasangan. Momen sakral ini menjadi topik yang tiada habisnya dibahas sepanjang zaman. Sebab selain anjuran dalam beribadah, juga sebagai alur kehidupan yang harus dilewati.

Demikian beberapa alasan pernikahan dini banyak terjadi di generasi millenial. Sekarang jadi lebih tahu kan, bro?

This post was created with our nice and easy submission form. Create your post!

What do you think?

1 point
Upvote Downvote
Advocate

Written by Nur Aini Rahmah

Seorang penulis

Story MakerStory MakerContent AuthorContent Author
Yakin Kenal Sama Dirimu, Millennial? Yuk Kenali Karakteristiknya

Yakin Kenal Sama Dirimu, Millennial? Yuk Kenali Bagaimana Karakteristikmu

Penting Diketahui 6 Pola Asuh yang Semestinya Diberikan Untuk Generasi Millenial

Penting Diketahui 6 Pola Asuh yang Semestinya Diberikan Untuk Generasi Millenial