in

Penting Diketahui 6 Pola Asuh yang Semestinya Diberikan Untuk Generasi Millenial

Makin cepat makin baik

Penting Diketahui 6 Pola Asuh yang Semestinya Diberikan Untuk Generasi Millenial

Lain dulu, lain sekarang, pola asuh memang turut memiliki andil besar dalam proses pembentukan karakter seseorang. Bagaimana orang tua membimbing, memberi pengarahan pada anak, melindungi dan mengajari anak untuk mencapai proses pendewasaannya.

Hingga anak dapat berupaya mengikuti norma-norma yang berlaku di masyarakat. Meski Millenials terlahir di zaman dimana tv sudah menggunakan remote, teknologi dan internet sudah menjadi kebutuhan pokok, tapi orang tua tidak boleh kehilangan cara mengikutinya.

Bagi kamu yang sudah memiliki anak, atau kalau pun belum, tapi memiliki adik, bisa banget dipraktekkan di rumah demi mencetak generasi  millenial yang baik.

Pola Asuh yang Benar Untuk Generasi Millenial

Dibawah ini beberapa poin yang perlu diketahui bagaimana pola asuh untuk generasi millenial, check this out:

1. Perhatikan Perilaku Positifnya

Setiap anak memiliki tahap perkembangannya sendiri. Adapun perilaku yang muncul bisa saja berbeda-beda di masa usia perkembangannya. Disini pemahaman orang tua akan tumbuh kembang anak amat diperlukan.

Ada anak yang cepat berkembang di usianya yang masih balita. Namun ada juga anak yang lambat berkembang seperti belum bisa berbicara dengan lancar apa yang diinginkan saat meminta sesuatu padahal usianya sudah 5 tahun.

Stimulus positif dibutuhkan untuk merangsang tumbuh kembang anak dengan melakukan aktivitas motorik kasar dan motorik halus. Reward yang tepat juga menentukan sikap perilaku positif anak dalam merespon sesuatu dikemudian hari.

Boleh saja memuji kelebihan, kemampuan atau bahkan prestasi anak sebagai bentuk apresiasi dan dukungan yang positif. Selalu ingat jika ingin memberikan pujian pastikan secara spesifik sesuai bentuk usahanya.

Namun juga perlu diperhatikan bahwa anak yang berperilaku positif seperti menolong sesama, merapikan tempat tidur dan sebagainya dapat menjadi fokus yang lebih efektif membangun citra diri positif pada anak.

Karena anak akan merasa didukung dan termotivasi melakukan hal baik sebab ada yang percaya pada dirinya. Tidak selalu dengan lisan memujinya atau memberikan hadiah, tersenyum, memasang wajah bahagia saat anak melakukan hal baik sudah merupakan bentuk reward.

Tentunya feedback ini juga diberikan dalam timing yang tepat. Agar anak tahu bahwa kebaikan tidak selalu mengharapkan imbalan, tetapi dilakukan dengan tulus dan bisa membuat orang lain bahagia.

2. Tidak Mengekang Kebebasan Anak

Kebiasaan memberikan segalanya pada anak, bahkan sebelum mereka meminta, membuat mereka kehilangan kesempatan untuk mengeluarkan keinginannya.

Ternyata membiarkan anak sesekali memilih dan berinisiatif sendiri apa yang ingin dilakukannya akan mempercepat pengetahuannya mengenai mana yang baik dan buruk.

Membuat anak mengarahkan minatnya kepada aktivitas atau hal-hal yang lebih disukainya. Melatihnya agar mudah mengemukakan pendapat dengan sering mengajaknya berdiskusi.

Mengajari agar anak lebih terbuka kepada orang tua dari hati ke hati. Anak pada generasi millenial kerap disebut memiliki keingintahuan yang tinggi pada hal baru atau lebih dikenal dengan sebutan kepo.

Keingintahuan sesuai perkembangan usianya tentunya, akan semakin baik bila diberikan kesempatan dalam memilih dan merasakan konsekuensi atau akibat dari pilihannya.

Bukan berarti tanpa pengawasan dan bimbingan orang tua ketika anak berbuat salah. Hanya memberi sedikit ruang agar anak dapat merasakan sendiri.

Memberikan ruang dan kesempatan bagi anak untuk melakukan kesalahan justru dapat memberikan pemahaman bertumbuh lebih efektif.

Pengarahan efektif dengan memberikan peraturan yang jelas tentang mana yang baik dan tidak, mana yang boleh dilakukan dan mana yang tidak boleh dilakukan juga perlu diingat.

Tujuannya agar anak lebih paham apa yang orang tua maksudkan sehingga terhindar dari terjadinya hal-hal tidak diharapkan sejak dini.

Baca:   Para Millennial Jadi Korban Zaman Now Yang Butuh Pertolongan!

3. Waktu yang Berkualitas

Waktu yang Berkualitas

Para orang tua atau pengasuh dituntut untuk menjadi role model yang baik bagi anak. Sebab kebiasaan anak adalah meniru apa yang dilihat dan didengar.

Dengan memperagakan secara langsung sebagai contoh bagi anak, membutuhkan waktu yang berkualitas. Membangun kelekatan yang baik pada anak dengan harapan anak mau menirukan hal positif yang ditanamkan orang tuanya atau pengasuhnya.

Sikap yang ditunjukkan akan lebih memberikan dampak signifikan daripada kata-kata. Oleh karenanya hadiran menjadi segalanya bagi anak.

Dukungan dan semangat yang diberikan orang tua walaupun dalam waktu yang singkat, namun berkualitas, mampu membuat anak merasa percaya diri dan yakin akan kemampuan dirinya. Terlebih jika diberikan disaat anak terlihat cemas untuk memulai sesuatu yang baru.

Waktu yang berkualitas bisa juga digunakan untuk mengunjungi panti asuhan dengan berbagi kepada warga panti dan teman-teman yang merasa kekurangan, sesuai kemampuan.

Atau bisa juga dengan membagi tugas pekerjaan rumah agar anak merasakan tanggungjawab. Semisal merapikan mainan ketempatnya setelah selesai bermain, membereskan buku-bukunya setelah mengerjakan PR dan sebagainya.

Menjenguk teman yang sedang sakit atau sedang mengalami kesedihan merupakan salah satu cara menunjukkan sikap agar anak bisa berempati.

Waktu yang berkualitas juga termasuk memanfaatkan waktu untuk kumpul bersama tanpa gadget. Menyempatkan mengobrol santai sejenak ataupun makan bareng.

Banyak orang tua yang terlalu asyik menggunakan handphone atau sibuk update di sosial medianya saat bersama anak.

Sampai lupa bahwa anaknya belum makan dan abai akan pengawasan anak. Perhatian yang penuh saat bersama anak, agar anak tidak terdistraksi dan bisa merasakan kehangatan keluarga.

 Itu juga salah satu cara menanamkan moral pada anak untuk bisa menghargai waktu. Orang tua yang bijaksana adalah yang pandai menyeimbangkan sesuatu.

Usahakan kegiatan diluar rumah tidak menyita sepenuhnya hingga tidak sempat meluangkan diri bersama anak. Sebab waktu begitu cepat berlalu. Jangan sampai banyak melewatkan momen berharga terhadap tumbuh kembang anak.

4. Tunjukkan Rasa Cinta Sepenuh Hati

Tunjukkan Rasa Cinta Sepenuh Hati

Memahami emosi negatif yang ditunjukkan pada anak merupakan kunci untuk mengetahui apa yang sedang dirasakan anak. Penyampaian dengan menggunakan gaya bahasa positif juga memberikan kesehatan fisik dan emosional bagi anak.

Pentingnya menahan amarah yang meluap-luap agar tidak berlebihan dan terkendali. Jangan sampai keluar kata-kata kasar hingga mengancam anak.

Punishment atau hukuman pada anak tidak membantu membawa perubahan positif. Biarkan anak tetap merasa dicintai dan bukannya dibenci saat dirinya melakukan kesalahan.

Konsekuensi yang ditanggungnyalah yang membuatnya tidak mengulangi kesalahan yang sama dengan sendirinya. Hal ini sama saja menanamkan nilai-nilai kehidupan pada anak.

Memeluk juga merupakan sentuhan yang bisa memberikan rasa nyaman dan sebagai bentuk dukungan dengan bahasa nonverbal.

Sehingga terjalin ikatan emosional yang kuat pada anak. Kondisi ini juga dapat meningkatkan daya tangkap dan kognisi pada anak, yakni bagian otak yang dinamakan hipokampus yang berfungsi sebagai penyimpanan memori.

Dikarenakan anak yang bahagia dengan limpahan kasih sayang dari orang tuanya cenderung memiliki hipokampus lebih besar dibandingkan pada anak yang kurang mendapatkan kasih sayang.

Oleh karena itulah orang tua yang menginginkan anaknya tumbuh cerdas dan memiliki kepribadian baik, senantiasa menyayangi anak dengan setulus hati. Peran keluarga terutama orang tua memiliki andil sangat besar bagi penentu karakter anak.

Jika pendidikan karakter sudah terbentuk dengan sedemikian kuat dan baiknya, harapannya anak tidak akan terbawa arus negatif pergaulan dan perkembangan zaman.

Dukungan dan semangat yang diberikan oleh kedua orang tua sangat efektif pada perkembangan anak secara signifikan.

Baca:   11 Tren Gaya Hidup di Kalangan Generasi Millennial Yang Kurang Produktif

5. Kurangi Kebiasaan yang Salah

Seringnya para orang tua tidak menyadari kebiasaan-kebiasaan yang salah dalam mendidik anak. Seperti saat mendiamkan anak ketika menangis. Banyak orang tua yang mencuekinya begitu saja.

Padahal ada banyak cara untuk mendiamkan anak saat sedang menangis, salah satunya dengan membuat anak melihat keatas. Misalnya menunjuk awan.

Karena secara psikologis saat menangis melihat kebawah atau menunduk. Maka cara mendiamkannya adalah dengan mengarahkannya melihat keatas.

Kemudian ketika mengingatkan anak untuk berhenti bermain. Biasanya orang tua cenderung melarang dan memerintah seperti, “Ayo udahan mainnya sekarang!”

Anak biasanya akan menolak dan berperilaku defensif karena keasyikannya menikmati permainan seperti terenggut begitu saja. Akan tetapi usahakan untuk mengingatkan dengan memberi tenggat waktu. Seperti, “Ayo lima menit lagi ya mainnya selesai.”

Kemudian beberapa menit kemudian diingatkan kembali, “Tiga menit lagi ya.” Hingga batas waktu yang diberikan habis. Dengan demikian akan membuat anak mengerti untuk segera berhenti menyelesaikan permainannya.

Mengajari anak untuk menepati janji juga diperlukan kehati-hatian. Sebab anak akan meniru kebiasaan orang tuanya. Jika orang tua berjanji usahakan untuk menepati janjinya. Agar anak belajar bertanggung jawab.

Namun bila dirasa tidak bisa menepati janjinya, maka sebaiknya tidak mengatakan sesuatu yang seolah pasti dilakukan. Karena kalau tidak, anak akan kecewa dan memunculkan karakter suka berbohong.

Berikan alasan yang logis agar anak mau menerima dan memahami. Ini sama saja melatih anak untuk jujur dan berterus terang.

6. Tanamkan Nilai-Nilai Beragama

Tanamkan Nilai-Nilai Beragama

Ini merupakan poin penting yang semestinya ada didalam keluarga. Seperti berdoa sebelum melakukan akivitas sehari-hari perlu diterapkan secara kontinu.

Tidak hanya anak yang melakukannya, ataupun menyerahkan kepercayaan pada guru di sekolah, tetapi orang tua yang semestinya lebih dulu memulainya.

Sebab keluarga merupakan pendidikan sekolah pertama bagi anak. Membuat anak mengingat sang pencipta ketika bepergian, seperti memperlihatkan keindahan alam. Memuji Tuhan karena telah memberi rezeki dan kesehatan.

Ketika anak hendak tidur biasanya orang tua akan menyuruhnya dengan kalimat lebih mengingatkan pada hal duniawi seperti, “Tidur dulu yuk besok kan pergi ke sekolah.”

Tapi cobalah untuk mengganti kalimat itu dengan hal yang lebih mengingatkan pada kehidupan akhirat seperti, “Tidur dulu yuk besok kan mau ibadah.”  Dengan begitu anak akan tertanam nilai-nilai keagaaman didalam dirinya, serta lebih mengingat akan Tuhannya.

Nah, itu tadi beberapa poin yang perlu diketahui bagaimana pola asuh untuk generasi millenial. Memang tidak mudah menjadi orang tua. Terlebih tidak ada sekolah khusus untuk menjadi orang tua dan lulus dengan terbaik.

Butuh waktu tuk berproses dan bukanlah perjalanan selama satu atau dua hari, tapi seumur hidup. Namun dengan menerapkan pola asuh yang positif, saling bekerja sama dengan pasangan, antara ibu dan ayah diharapkan dapat membentuk karakter positif pada anak.

Baca:   Pakai 12 Cara Ini Biar Kamu Tak Gampang Terpengaruh Pergaulan Negatif

Walaupun tidak ada resep mujarab yang ampuh bagi permasalahan mendidik anak sampai menjamin anak menjadi sukses. Tetapi bukan berarti tidak bisa belajar untuk menjadi orang tua yang baik bagi Millenials kan?

This post was created with our nice and easy submission form. Create your post!

Written by Nur Aini Rahmah

Seorang penulis

Tinggalkan Balasan